Berpasangan dengan pemain yang jauh lebih muda bukanlah hal baru untuk Gresya saat dipasangankan dengan Apriani yang 10 tahun lebih muda. Sebelumnya, selepas Olimpiade 2012, Greysia pernah dipasangkan dengan dengan Anggia Shitta Awanda yang 7 tahun lebih muda. Hal yang manarik adalah, Greysia sendiri boleh dikatakan produk akselerasi dimana pada awal karirnya sempat dipasangankan dengan pemain senior pelatnas seperti Jo Novita,Vita Marissa atau bahkan Flandy Limpele.

Pelatnas Tim Nasional Indonesia sendiri bisa dikatakan sangat minim menerapkan pemasangan senior-junior meskipun dalam hal ini sering sukses dilakukan timnas negara lain terutama Tiongkok.

Sebelum mendapatkan akselerasi, Greysia Polii sendiri merupakan pemain junior Indonesia paling bersinar di Kejuaraan Junior tahun 2004, sebagai runner up di ganda campuran dan bronze medalist di ganda putri. Buah manis dari bakat, kerja keras, ketekunan serta kesempatan mentoring tersebut adalah prestasinya menjadi pemain ganda putri papan atas dunia dan meraih medali emas di Asian Games 2004.

Final Kejuaraan Dunia Junior 2017 di sektor ganda campuran mengingatkan kejuaraan di tahun 2012. Di tahun tersebut, terjadi All Indonesia Final setelah keduanya sama-sama mengalahkan lawan dari Tiongkok. Mentoring senior-junior memang bukanlah satu-satunya factor penentu meneruskan kesuksesan di level junior dan ini bisa dilihat dari lebih menterengnya prestasi pemain-pemain Tiongkok peraih medali perunggu di kejuaraan junior tahun 2012.

Siti Fadia, Rinov, Yeremia, Mentari, Ribka dan Jauza adalah bakat-bakat istimewa yang dimiliki Indonesia saat ini. Mempertimbangkan untuk memberikan hadiah berupa mentoring dari pemain top pelatnas dan bertanding di level tertinggi kejuaraan bulutangkis adalah opsi selain mereka akan mendatkan beasiswa dari kejuaraan dunia.

FullSizeRender